Menuju Swasembada Pangan Nasional

Indonesia terkenal dengan sebutan negara Agraris atau negara pertanian, jika kita melangkah melihat desa-desa di Jawa maka kita melihat hamparan sawah yang luas membentang, menghasilkan kebutuhan utama rakyat Indonesia yaitu beras. Cerita tentang beras adalah cerita yang ada terkenal dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.

Indonesia meningkatkan upaya untuk menjadi mandiri dalam produksi beras sementara juga membangun jaring pengaman dengan stok impor. Konsumen beras ketiga terbesar di dunia ini telah membuat kemajuan yang signifikan dalam memastikan keamanan pasokan beras domestik dalam beberapa tahun terakhir dan kemungkinan untuk mencapai swasembada dalam produksi pada pertengahan dekade ini.

Menurut sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Australian Centre for International Agricultural Research pada bulan September, Indonesia telah menjadi lebih efisien dalam memproduksi padi, meningkatkan hasil per hektar sebesar 13% antara tahun 1985 dan 2009. Akibatnya, hasil panen per hektar berada pada tingkat lebih tinggi dari rekor tahun lalu, Indonesia menghasilkan 5,1 ton untuk setiap hektar dipanen, yang sudah berada di atas rata-rata global sebesar 4,3 ton, kata laporan itu. Setidaknya beberapa dari peningkatan ini berasal dari mekanisme peningkatan penanaman padi dengan menggunakan teknologi yang lebih baik dan praktek pertanian berkelanjutan.

Robert Zeigler, Direktur Jenderal International Rice Research Institute, yakin bahwa Indonesia dapat mencapai tujuan jangka panjang nya. “Ya, tentu Indonesia bisa mencapai swasembada beras dengan meningkatkan hasil padi,” kata Zeigler pada awal Oktober tahun lalu. “Mereka perlu untuk dapat meningkatkan hasil dari sawah yang ada. Mereka tidak perlu untuk memperluas sawah dan mereka tidak butuh untuk menebang hutan untuk memproduksi beras di sawah. “

Itu jauh lebih baik untuk mengangkat output dari ladang yang sudah digunakan dengan menerapkan teknik yang ditingkatkan dan memanfaatkan irigasi yang sudah ada dan infrastruktur transportasi, katanya.

Sampai Indonesia mencapai swasembada produksi beras, Indonesia akan terus memerlukan persediaan beras bersumber dari luar negeri yang dimaksudkan untuk menutup kelangkaan jangka pendek di pasar.

Sampai tahun ini, Indonesia telah mengimpor lebih dari 700.000 ton beras dari Thailand dan Vietnam, bagian dari proses persediaan beras, setelah membeli 277.305 ton beras Thailand pada tahun 2012.

Meskipun kebijakan impor beras dapat mempengaruhi tingkat inflasi di Indonesia, juga bisa memacu daerah lain untuk lebih mengembangkan produksi lokal dan mencapai swasembada sebelum tenggang waktu yang ditargetkan 2014.

Prof.Dr.Ir.Widjang H. Sisworo menyatakan Persoalan mendesak dan tantangan nyata pertanian Indonesia saat ini bukan masalah impor atau tidak impor beras, tetapi mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor beras dari pasar global dan membangun kembali swa sembada beras. Upaya serius ke arah itu ialah dengan mengatasi kesenjangan yang telah ada antara produksi dan konsumsi beras nasional.

(ea/FH/bd)

(Pc: inspirasipangan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*