Petugas kebersihan mengeruk sampah dengan menggunakan alat berat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing, Tangerang, Banten, Kamis (23/7). Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tangerang mengatakan selama bulan puasa hingga lebaran 2015 volume sampah di wilayah tersebut meningkat hingga 1100 ton perhari dari hari biasa yang hanya mencapai 1000 ton perhari. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/Rei/foc/15.

Pengembangan Sampah Menjadi Energi Harus Dipercepat

(Berita Daerah – Jakarta) Pemerintah kali ini mempercepat pengembangan konversi sampah menjadi energi sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) No. 18/2016 tentang Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Berbasis Sampah.

Mengutip dalam laman esdm.go.id, Selasa (3/5), bahwa Ditjen EBTKE mensosialiasikan peraturan terkait pengembangan pembangkit listrik berbasis sampah kota, dan sudah ada 7 Kota yang telah ditunjuk sebagai pilot project yaitu DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Surabaya, dan Kota Makassar.

Sesuai dengan target pemanfaatan Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025 dimana telah dilakukan berbagai upaya oleh Pemerintah untuk turut berkontribusi pada pencapaian target tersebut, salah satunya melalui pengembangan pemanfaatan sampah khususnya sampah kota menjadi energi (Waste to Energy). 

Semakin bertambahnya jumlah penduduk, maka potensi sampah sebagai sumber energi makin bertambah pula. Berdasarkan data dimana potensi sampah pada pakai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kota besar di Indonesia mampu membangkitkan listrik mencapai 2 GW, sedangkan potensi yang sudah termanfaatkan baru mencapai kapasitas terpasang 17,6 MW (0,9 dari total potensi). Dengan demikian, masih banyak potensi sampah yang belum termanfaatkan.

Volume sampah yang diproduksi semakin meningkat, sedangkan daya tampung dan usia pakai TPA yang ada semakin terbatas karena hanya mengandalkan sistem open dumping. Inilah yang menjadi permasalahan lingkungan yang menghasilkan emisi gas methane (CH4) dan karbondioksida (CO2).  Sedangkan di sisi lain sampah mempunyai potensi energi biomassa yang dapat dikonversi menjadi energi lain, salah satunya menjadi energi listrik.

Dukunganpun datang, khususnya di sisi hilir, dimana Kementerian ESDM telah mengimplementasikan kebijakan Feed In Tariff bagi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Kota. Adanya penggunaan satuan mata uang Dollar AS, sehingga dapat mengantisipasi fluktuasi perekonomian  dan menciptakan kondisi iklim investasi yang lebih stabil.

Melihat potensi sampah yang belum dimanfaatkan, dapat dibayangkan betapa besarnya potensi dan peluang bagi investor untuk mengembangkan sampah menjadi energi listrik. Belum lagi Pemerintah juga giat melakukan penyederhanaan alur perizinan. Sehingga minat calon investor untuk berpartisipasi dalam menanamkan modalnya.

Lea/Journalist/BD
Editor : Lenny Ambarita
image  : bd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*