Pembangkit Listrik Berbasis Bioenergi (Photo: ESDM)

Tahun 2016, Pembangkit Listrik Berbasis Bioenergi Mencapai 2069 MW

(Berita Daerah – Nasional) Pemerintah Indonesia memperkirakan 45 gigawatt (GW) listrik berbasis energi baru terbarukan dibutuhkan guna memenuhi target 23 persen energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional pada tahun 2025.

Hal ini sebagaimana pernah disampaikan oleh Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan, Maritje Hutapea, yakni guna mencapai target tersebut kementerian ESDM sangar agresif mengeluarkan kebijakan yang dapat mendongkrak pengembangan dan pemanfaatan energi baru terbarukan. Regulasi merupakan salah satu cara untuk mendongkrak pengembangan dan pemanfaatan energi baru terbarukan tersebut.

Hingga di triwulan terakhir tahun 2016 ini, pemerintah tetap optimis dapat mengembangkan energi baru terbarukan sebesar 3,6 gigawatt (GW) pertahun dalam kurun waktu 10 tahun. Ini merupakan salah satu langkah untuk mencapai target 23 persen energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional atau setara dengan 45 GW pada tahun 2025.

Direktur Bioenergi Sudjoko Harsono mengatakan guna mengembangkan energi baru terbarukan dengan kapasitas tersebut dibutuhkan investasi sebesar  Rp 1600 triliun. “Saat ini kapasitas terpasang energi baru terbarukan 8,66 GW atau memberikan kontribusi sebesar 9,8 persen dalam bauran energi nasional,” kata Sudjoko di Jakarta, Selasa (11/10).

Khusus untuk bioenergi, pemerintah telah membuat beberapa kebijakan dan program antara lain menerapkan mandatori penggunaan bahan bakar nabati (BBN) dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) nomor 12 tahun 2015 tentang penyediaan, pemanfaatan dan tata niaga BBN (biofuel) sebagai bahan bakar lain. “Kita juga semua tahu Indonesia sukses dalam menerapkan mandatori B20 dan sekarang pemerintah bersama dengan stakeholder bersiap untuk ke tingkat lebih tinggi lagi yaitu mandatori B-30,” paparnya.

Pemerintah juga menetapkan skema feed in tariff untuk biomass, biogas dan pembangkit listrik sampah kota dengan diterbitkannya Permen ESDM nomor 44 tahun 2015 tentang pembelian tenaga listrik dari pembangkit listrik berbasis sampah kota, kemudian Permen ESDM nomor 21 tahun 2015 tentang pembelian listrik dari pembangkit listrik berbasis biomass dan biogas.

Sudjoko menjelaskan, potensi bioenergi di Indonesia saat ini setara dengan 32 GW secara nasional dan mampu menjangkau daerah terpencil serta pulau terluar di Indonesia, sehingga diharapkan dengan pengembangan listrik berbasis bioenergi dapat membantu target elektrifikasi nasional 100 persen.

“Hingga tahun ini, total kapasitas pembangkit listrik berbasis bioenergi on grid mencapai 128,6 MW yang terdiri dari biogas, biomass dan sampah kota dan bisa mencapai 2069 MW dalam tahun ini,”tuturnya.

Nanie/Journalist/BD
Editor : Emy T
Image : Esdm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*