Rumput Laut

Pelaku Usaha Harap Pemerintah Pahami Alur Bisnis Komoditas Rumput Laut

(Berita Daerah – Jakarta) Dalam peningkatan pertumbuhan industri di Indonesia seringkali mengalami hambatan atau kendala, khususnya untuk komoditas ekspor rumput laut. Dimana komoditas ini masuk ke sektor perikanan dan kelautan. Kamar Dagang dan Industri (KADIN) dan Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) menilai bahwa masih terdapat sejumlah kebijakan pemerintah di sektor perikanan dan kelautan yang terdapat dalam Road Map yang harus ditinjau kembali. Masih terdapat kebijakan yang dianggap kontra produktif.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto mengatakan bahwa pemerintah diharapkan mampu mempercepat revisi semua peraturan yang menghambat pengembangan di sektor ini. Dengan mengeluarkan kebijakan didukung dengan proses kajian, melalui proses konsultasi publik, proses sinkronisasi peraturan dan juga sosialisasi yang baik,  seperti yang diinformasikan ke Beritadaerah.co.id, Selasa (10/1).

Adapun beberapa aturan yang dikeluarkan KKP belum berpihak penuh pada usaha penangkapan, dan budidaya ikan dan para pelaku usaha rumput laut. Ketua ARLI, Safari Azis menjelaskan bahwa komoditas rumput laut memiliki karakteristik tersendiri jika dilihat dari rantai produksinya, rantai nilai hingga proses pemasarannya. Memang rumput laut itu memiliki berbagai macam jenis, sehingga sebagai bahan baku pun akan sangat beragam. Sebelum dapat digunakan oleh industri pengguna, rumput laut harus masuk terlebih dahulu kepada industri pengolah yang mengolah bahan baku menjadi carrageenan atau agar-agar, kemudian setelah itu masuk kepada industri formulasi, baru kemudian dapat digunakan oleh industri pengguna dengan produk makanan, minuman, obat-obatan, kosmetik dan lainnya.

Kelemahan yang ada, yakni ketidaksiapan industri pengolah bahan baku yang ada di Indonesia untuk menyerap rumput laut lokal menjadi persoalan tersendiri, sementara dalam hal daya saing dan pasar karena pasar rumput laut dan hasil olahannya lebih banyak berada di luar negeri. Selanjutnya, Industri formulasi dan industri pengguna dengan bahan hasil olahan rumput laut banyak terdapat di luar negeri. Industri ini melibatkan riset dan pengembangan serta penggunaan teknologi yang tepat. Penyerapan dalam negeri rendah sementara produksi rumput laut kita melimpah. Seharusnya pemerintah tidak harus membatasi atau mengenakan bea keluar ekspor bahan baku rumput laut.

Di sektor hilir penyerapannya masih rendah dan biasanya membeli dengan harga pembelian yang kurang bersaing. Sementara pihak asing bisa menyiapkan cara pembayaran yang efektif dengan harga yang kompetitif dan menguntungkan para petani. Sementara, di tahun 2015, berdasarkan data dari BPS sektor hulu rumput laut menyumbang devisa lebih besar daripada hilirnya, yakni mencapai  78% ekspor dengan nilai US$ 160.408.809 sedangkan hilir hanya mencapai 22% ekspor dengan nilai US$ 45.056.021.

Lea/Journalist/BD
Editor : Lenny Ambarita
Image :Kadin

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*