IMG_0022

Mengenal Lima Kendala Utama Investasi di Indonesia

Ada lima top kendala investasi di Indonesia menurut pengamatan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong, yang  pertama adalah regulasi, kedua  adalah masalah perpajakan, yang ketiga masalah tenaga kerja, keempat masalah pertanahan, kelima infrastruktur. Thomas menyampaikan bahwa regulasi adalah hambatan by far – hambatan yang lebih jauh dibandingkan hambatan-hambatan lainnya yang perlu diselesaikan.

Pada tahun 2014 awal pemerintahan Jokowi JK, saya pernah menulis bahwa pekerjaan rumah Jokowi JK adalah bagaimana menyelesaikan gunung regulasi Indonesia Baca: Pekerjaan Rumah Jokowi-JK: Gunung Regulasi Indonesia. Regulasi di Indonesia sering berubah-ubah dan ‘kagetan’ tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dibandingkan negara maju regulasi sifatnya stabil dan bertahun-tahun tidak berubah, kalaupun ada perubahan melalui konsultasi publik yang sangat intensif sehingga sifatnya transparan. Bagi investor yang hendak berinvestasi dalam periode multi years akan sulit bila kondisi regulasi berubah-berubah terus menerus. Investor mengalami kesulitan dalam melakukan perencanaan bila regulasi berubah setiap tiga bulan, setiap enam bulan, atau apabila berganti menteri, berganti kepala daerah, ataupun menterinya sama tapi peraturan berubah terus menerus. Memang budaya di pemerintahan saat ini, menghasilkan regulasi yang baru adalah ukuran keberhasilan pemerintah.

Thomas lembong 1

Permasalahan pajak juga terlihat pada ketimpangan sistem pajak, sebagai contoh dari totalitas jumlah pajak yang didapat, bagian terbesarnya berasal dari pajak penghasilan badan usaha. Namun pajak penghasilan badan usaha 70 persen berasal dari sektor manufaktur, 20 persen dari sektor keuangan. Kondisi ini membuat sektor manufaktur hanya bertumbuh 2-3 persen dibandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bertumbuh 5-6 persen per tahun. Kondisi ini menunjukan beban pajak sektor manufaktur terlalu besar yang mengakibatkan sektor ini kurang produktif, dan diperlukan alokasi pajak kepada sektor lain agar beban pajak menjadi seimbang.

Masalah ketenagakerjaan di Indonesia menurut Thomas perlu dilihat secara detil, sebagai contoh di sektor pariwisata misalnya ada front face labor dan back face labor. Pemilahan seperti ini memudahkan mencari sumber tenaga kerjanya, front face labor yang berhadapan dengan para pengunjung bisa diambil dari daerah yang wisatanya sudah cukup berhasil seperti Bali dan Jawa. Sedangkan back face labor bisa diambil dari penduduk setempat, seperti mereka yang memasak, mengurus taman, atau pekerjaan administrasi lainnya. Disisi lain menurut saya selain tenaga kerja menjadi permasalahan, Indonesia memiliki Bonus Demografi yang menjadi kekuatan baik penyediaan tenaga kerja dan pasar yang besar, Baca: Bonus Demografi 2030: Peluang Dan Ancamannya.

Pertanahan di Indonesia, adalah issue keempat yang penting untuk dibahas dalam mendorong masuknya investor. Status tanah dan bagaimana pemindahan kepemilikan merupakan proses yang sering membuat investor mundur ataupun perlindungan terhadap hak-hak masyarakat menjadi lepas.

Mengenai infrastruktur saat ini peran swasta banyak terlibat pada pembangunan pembangkit tenaga listrik, termasuk perluasan dari apa yang sudah ada. Menurut Thomas pembangunan infrastruktur sekarang sudah mulai bergulir, pada awal pemerintahan Jokowi, fokus utama pemerintah adalah pada pembangunan infrastruktur dan dengan konsep pembangunan dari pinggiran. Saya sendiri sudah menyaksikan bagaimana pembangunan diperbatasan Kalimantan Barat sudah nampak terlihat. Pembangunan infrastruktur perluasan bandara di sepuluh ‘Bali Baru’ yaitu daerah-daerah yang menjadi destinasi wisata sekarang ini sudah selesai dan diharapkan membuka daerah-daerah wisata ini bagi kedatangan para wisatawan manca negara dan domestik.

Kelima issue utama investasi di Indonesia ini, sudah disadari oleh masyarakat dan juga pemerintah, sekarang ini yang diperlukan adalah aksi, dan itu sedang dilakukan, bila melihat peringkat investasi Indonesia yang meningkat pada indikator Ease of Doing Business keluaran World Bank. Trend positif ini sedang dikejar oleh pemerintah dengan harapan pada tahun 2019 Indonesia akan menduduki peringkat ke 40 dari kondisi sekarang ini. Majulah Indonesiaku!

Fadjar 2

Penulis Fadjar Ari Dewanto adalah Executive Director Lepmida (Lembaga Pengembangan Manajemen dan Investasi Daerah)

One comment

  1. Wow, gorgeous site. Thnx …
    [url=http://www.adventurenorthhockey.com/]maglie serie a 2016 poco prezzo[/url]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*