PERMINTAAN JERUK MENINGKAT

Tingkatkan Budidaya Jeruk, Temanggung Belajar dari Kabupaten Karo

(Berita Daerah – Sumatera) Kabupaten Karo terkenal di nusantara bahkan sudah mendunia yakni dengan budidaya pertanian tanaman jeruk berastagi. Baru-baru ini Asisten Administrasi Sigit Purwanto Pemerintah Kabupaten Temanggung melakukan studi banding tentang budidaya pertanian tanaman jeruk di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Beliau bersama Kepala Bappeda Bambang Dewantoro, Kepala BPPKAD Kristri Widodo dan pejabat terkait serta diikuti para wartawan media cetak dan elektronik.

Mengutip dari laman temanggungkab.go.id, Senin (17/4), Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo Sarjana Purba yang menerima rombongan dari Kabupaten Temanggung dalam kunjungan surveynya ke lokasi. Adapun alasan kunjungan survei ini memang karena kondisi geografis Kabupaten Temanggung hampir sama dengan Karo. Yakni kalau di Kabupaten Karo ada dua gunung, yakni Sinabung dan Sibaya, sementara itu, di Temanggung ada Gunung yakni Sumbing dan Sindoro.

Menurutnya, tanaman jeruk juga bisa dikembangkan di Temanggung dimana pada tahun 1970-an di daerah Paponan Temanggung juga merupakan daerah penghasil jeruk. Namun, katanya karena komoditas tembakau waktu itu harganya lebih menjanjikan maka lambat laun tanaman jeruk di Paponan tergusur oleh tanaman tembakau hingga sekarang. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, dan Bappeda tengah merancang pemetaan terhadap geografis pertanian sehingga tanaman keras seperti jeruk ini bisa dibudidayakan. Kalau dilihat dari geografisnya Temanggung cukup berpotensi, hanya perlu adanya peningkatan SDM.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo Sarjana Purba mengatakan bahwa jenis tanaman jeruk yang dibudidayakan itu adalah siam madu. Jeruk asal Karo yang lebih dikenal sebagai jeruk berastagi, ini sudah dikembangkan di 14 kecamatan dari 17 kecamatan di Kabupaten Karo. Di 14 kecamatan yang sangat cocok untuk pengembangan budi daya.

Budi daya tanaman jeruk di Kabupaten Karo sudah dimulai tahun 1978-1979 dan mulai dikembangkan untuk tujuan wisata pada 1990-an. Sementara, wisatawan yang datang umumnya dari luar Kabupaten Karo dan juga wisatawan mancanegara. Bahkan permintaan akan jeruk berastagi sudah punya pasar sendiri, jadi tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal saja, walaupun sudah masuk ke pasar Jakarta dan Bandung.  Itu saja, masih tetap tinggi untuk permintaan jeruk berastagi.  Jadi tidak harus menciptakan pasar baru karena pasar tradisional dan mal masih terbuka lebar.  Hanya untuk pasaran ekspor yang belum ada permintaan tetapi baru sekadar untuk oleh-oleh para turis yang datang. Budidaya tanaman jeruk di Kabupaten Karo masih menjanjikan, karena nilai ekonominya tinggi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Sementara ini, daerah pengembangan jeruk ada di 14 kecamatan yang cocok untuk budidaya.

Lea/Journalist/BD
Editor : Lenny Ambarita
Image : BD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*