Wujudkan Cita-cita Bangsa, Pemanfaatan SDA Harus dari Dalam Negeri

(Berita Daerah – Yogyakarta) Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menjadi pembicara kunci pada Diskusi Nasional Kebijakan Energi “Mewujudkan Keselarasan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) dalam Mencapai Sasaran Kebijakan Energi (KEN), di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Selasa (25/4).

Dalam diskusi tersebut, Arcandra menyampaikan salah satunya, adalah cita-cita pendiri bangsa Indonesia di sektor energi. Cita-cita tersebut adalah yang tersurat dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, bumi, air dan segala yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Mengutip laman esdm.go.id, Selasa (25/4), Arcandra Tahar mengatakan bahwa pihaknya mencoba menerjemahkan cita-cita ideal founding fathers bangsa Indonesia terkait energi ke dalam empat hal. Yang pertama adalah sumber daya alam (SDA) kita harus dikelola oleh putra-putri terbaik bangsa. Yang kedua, teknologi yang akan digunakan untuk mengelola SDA kita harus berasal dari teknologi yang kita ciptakan sendiri,” tutur Arcandra. Yang ketiga, menurut Arcandra, pendanaan untuk mengelola SDA tersebut sebisa mungkin harus berasal dari dalam negeri, dan yang keempat adalah pemanfaatannya harus dimaksimalkan untuk penggunaan dalam negeri dan akan diekspor jika terdapat sisa.

Namun saat ini, ujar Arcandra, ada jarak di antara cita-cita ideal tersebut dengan realitas yang terjadi. “Suka atau tidak suka, dalam pengelolaan SDA kita terjadi gap yang sangat besar. Sebagus apa pun rencana kita, namun gap tadi masih menganga lebar, maka gap itu bukanlah terjemahan dari pemikiran founding fathers kita. Tugas kita adalah bagaimana usaha kita mempersempit gap yang ada, baik dari segi sumber daya manusia, teknologi, uang, maupun pemanfaatan energi tersebut,” lanjut Arcandra.

Salah satu upaya mempersempit jarak tersebut adalah dengan menerbitan RUEN dan RUED. Arcandra pun menyebutkan bahwa Diskusi Nasional ini merupakan ajang untuk berdiskusi mengenai RUEN dan penerjemahannya menjadi RUED. “Hari ini adalah saatnya kita berbicara, apakah RUEN dan RUED yang kita miliki mampu untuk menutup gap tadi? Masing-masing dari kita memang memiliki peranan yang berbeda-beda, tetapi suatu saat nanti, gap yang ada akan dapat tertutup,” tambahnya.

Di akhir pidatonya, Arcandra berpesan kepada para mahasiswa agar mencari ‘arena pertarungan’ pengelolaan SDA yang menantang di masa depan. “Jangan hanya ‘bertarung’ di sekitar Jogja saja, kalau bisa cari arena pertarungan yang menantang. Namun, jika sudah sukses nanti ingat pulang dan bangun negara,” tutup Arcandra.

Panda/Journalist/BD
Editor  : Agustinus Purba
Image  : Esdm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*