Perlunya Organisasi Development Fund Bagi Daerah

Setiap pemimpin daerah memiliki harapan untuk kemajuan tanah kelahirannya, seorang putra daerah yang hendak mengabdi bagi daerahnya menyampaikan kepada saya hingga menitikkan air mata, bagaimana ia ingin daerahnya maju seperti daerah lain. Ungkapan ini hampir saya jumpai dibanyak pemimpin daerah ketika mereka mengungkapkan apa yang paling penting bagi daerahnya. Bentuk kemajuan yang diungkapkan bermacam-macam, harapan agar petani di daerahnya menjadi mandiri, dan tidak hanya menjual hasil mentah. Harapan agar pariwisata bertumbuh pesat merupakan mimpi banyak pemimpin daerah, sebab keindahan Indonesia tidak diragukan lagi. Harapan agar nelayan tidak hanya hidup dengan menjala ikan saja, namun memiliki sea farming, hingga perusahaan pengolahan ikan sendiri. Harapan agar pemuda-pemuda tidak serta merta meninggalkan kampungnya ketika masuk usia mahasiswa, sebab tidak ada lagi kampus di kabupaten/kotanya. Harapan-harapan ini menjadi bahasa yang terucap disetiap perjumpaan dengan para pemimpin daerah.

Saya sering menyederhanakan hal ini dengan menyimpulkannya menjadi satu atau dua indikator ekonomi puncak sebagai tujuan utama sebuah daerah. Mengambil contoh Visi Indonesia 2030 yang pernah disusun Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) maka pendapatan perkapita menjadi tolok ukur kesejehateraan rakyat, dan saat ditelusuri ke dasarnya indikator ini akan berasal dari pertumbuhan produktifitas setiap sektor di daerah masing-masing. Biro Pusat Statistik (BPS) membagi sektor-sektor ini menjadi 9 pengelompokan sektor yaitu: Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan; Pertambangan dan Penggalian; Industri Pengolahan; Listrik, Gas dan Air Bersih ; Konstruksi; Perdagangan, Hotel dan Restoran; Pengangkutan dan Komunikasi; Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan; Jasa-jasa termasuk jasa pelayanan pemerintah. Setiap sektor tersebut dirinci lagi menjadi sub-sub sektor.

Model ini tentunya akan dengan cepat mengkalkulasi beberapa kebutuhan investasi yang diperlukan, dalam pendekatan Incremental Capital Output Ratio, saat setiap besaran output dapat ditentukan, maka besaran input atau investasi yang diperlukan akan dapat dengan mudah dihitung. Sekalipun penghitungan ini masih bersifat makro, namun sebagai panduan pendekatan ini dapat menjadi pegangan para pemimpin daerah, dengan kelengkapan tahapan sampai ketingkat mikro. Sesudah besaran investasi yang diperlukan bisa dihitung, baik di tingkat daerah secara aggregate maupun sektoral, yang diperlukan sekarang adalah menterjemahkannya dalam portfolio yang sudah mendekati kesesuaian dengan lapangan. Dari pengalaman saya, banyak daerah tidak mempunyai dana untuk melakukan stimulasi pembangunan, jika melihat catatan pemerintah untuk pendanaan infrastruktur, maka pemerintah hanya sanggup membiayai 60 persen dari total anggaran infrastruktur hingga 2019 sebesar Rp. 4.700 triliun, sisanya dibutuhkan peran swasta untuk ikut menanggungnya.

Mimpi dan harapan daerah untuk memiliki daerah yang maju menghadapi tantangan dengan kebutuhan dana pembangunan yang tidak dapat dipenuhi dari anggaran pemerintah. Saya setuju dengan ide untuk membentuk organisasi pengumpul dana pembangunan (development fund organization). Organisasi ini akan menjadi jembatan untuk mewujudkan mimpi-mimpi daerah, ibarat ada perhelatan besar, maka organisasi ini berfungsi sebagai pengumpul dana yang menyebabkan semua dapat berjalan. Fungsinya akan seperti Investment Bank, yang memiliki sumber-sumber dana untuk pembangunan dan mengalirkannya kepada portfolio investasi yang menghasilkan dan mempercepat pertumbuhan sektoral. Sebelum mimpi pemimpin daerah terwujud, mulailah dengan membangun organisasi development fund, menyusunnya seperti menyusun sebuah bank. Organisasi ini tidak menggantikan fungsi Bank Pembangunan Daerah (BPD), namun melengkapinya, dengan lebih tajam ke sumber dana dan alokasinya ke proyek-proyek pembangunan pemerintah. BPD bisa menjadi salah satu sumber dana organisasi ini dengan memenuhi compliance standard sebuah bank. Tidak ada yang instant untuk disusun, semuanya perlu waktu dan perjuangan hingga bisa membentuknya, namun mengingat fungsinya yang sangat penting untuk mewujudkan mimpi daerah, mulailah sekarang juga, seperti motto yang sering ada di daerah “kalau bukan kita siapa lagi? kalau bukan sekarang kapan lagi?”

Fadjar 2

Penulis Fadjar Ari Dewanto adalah Advisor Lepmida (Lembaga Pengembangan Manajemen dan Investasi Daerah)

10 comments

  1. The heart of your writing whilst sounding agreeable in the beginning, did not sit properly with me personally after some time. Somewhere throughout the sentences you actually were able to make me a believer unfortunately just for a very short while. I nevertheless have got a problem with your jumps in logic and you would do nicely to fill in those gaps. In the event that you actually can accomplish that, I will surely be fascinated.

  2. whoah this blog is great i love reading your articles. Keep up the great work! You know, a lot of people are searching around for this info, you could aid them greatly.

  3. Sometimes, blogging is a bit tiresome specially if you need to update more topics.,`,”~

  4. I discovered your website web site on the search engines and appearance a couple of your early posts. Always keep the excellent operate. I merely extra increase Rss to my MSN News Reader. Seeking forward to reading more from you down the road!…

  5. well of course, everyone loves to get rich but not everyone would love to do hard work“

  6. The pucsahres I make are entirely based on these articles.

  7. “I appreciate you sharing this article post.Really looking forward to read more. Really Great.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*