Banyuwangi Coffee Processing Festival, Perkaya Wawasan Kopi Dari Panen Hingga Penyajian

(Berita Daerah – Banyuwangi) Guna mengangkat kopi hasil petani Kabupaten Banyuwangi, Pemkab Banyuwangi menggelar Coffee Processing Festival selama tiga hari Rabu (18-20 Oktober 2017).

Para peserta yang hadir di Banyuwangi Coffee Processing Festival tidak hanya mendapatkan materi seputar proses produksi kopi yang ideal, namun mereka juga mendapatkan pengetahuan seputar barista. Di hari kedua pelaksanaannya, Kamis (9/10) Pemkab Banyuwangi mendatangkan barista profesional Viki Rahardja, penyandang gelar CTI Battle Latte Art Asia 2016 untuk berbagi ilmu dengan peserta.

Viki Rahardja mengatakan barista merupakan ujung tombak dari sebuah industri kopi. Karena setelah proses yang panjang mulai dari proses penanaman, proses pasca panen hingga menjadi kopi bubuk, selanjutnya kopi tersebut akan diseduh oleh seorang barista hingga akhirnya disajikan dan dinikmati. Nikmat atau tidaknya kopi yang disajikan tersebut tergantung dari proses penyeduhan yang dilakukan oleh barista.

“Sebenarnya semua orang yang membuat dan menyajikan kopi bisa disebut barista. Namun alangkah baiknya meskipun bukan barista profesional kita bisa membuat dan menyajikan kopi dengan cara dan takaran yang tepat untuk menghargai proses perjalanan kopi yang panjang tersebut,” kata Viki yang ditunjuk Kementrian Pariwisata sebagai duta kopi Indonesia.

Viki juga memaparkan bagaimana seorang barista bisa membuat dan menyajikan seduhan kopi yang nikmat. Mulai dari teknik brewing – penyeduhan kopi, praktek membuat kopi espresso, membuat kopi dengan penggunaan filter hingga praktek membuat espresso dengan campuran susu.

Setiap barista profesional mempunyai teknik masing masing dalam membuat kopi. Dari banyaknya teknik yang digunakan, intinya dari proses tersebut adalah rasa kopi yang enak. “Saya sudah banyak bertemu dengan jagoan barista dari berbagai negara, teknik brewing yang mereka lakukan berbeda, tapi semua rasa kopinya enak. Berarti untuk teknik boleh saja berbeda, yang penting adalah hasil akhir dari proses ekstraksi kopinya,” kata Viki.

Dalam kesempatan itu, peserta pun langsung melihat bagaimana Viki melakukan teknik brewing. Mulai dari takaran kopinya, tekstur kehalusan kopi atau ground size, suhu air, rasio air dan kopi serta time of brewing atau time extraction.

“Banyaknya kopi yang digunakan tentu saja akan mempengaruhi tekstur rasa, apakah tipis atau bold (pekat). Begitu juga semakin kasar tekstur bubuk kopi maka rasanya makin hilang dan suhu air yang digunakan harus lebih panas. Sedangkan kalau terlalu halus rasanya jadi pahit atau dry, jadi teksturnya harus tepat,” kata Viki sambil meminta peserta mencicipi hasilnya.

Selain itu mereka juga diajak praktek membuat espresso dengan baik serta bagaimana memberikan campuran susu yang pas untuk menyajikan secangkir espresso nikmat.

Salah satu peserta, Catur Sandi (35) mengaku sangat beruntung bisa mengikuti kegiatan yang telah berjalan selama dua hari ini. Selain mendapatkan materi tentang pengolahan kopi pasca panen, dia juga dapat ilmu menyajikan kopi.

“Ini berguna banget buat saya yang selama ini menjual kopi bubuk secara online. Ini jadi ada ide buat saya untuk bikin kedai kopi. Bila sudah tahu ilmunya, saya berani buka usaha ini,” kata dia.

Pada hari pertama peserta diberikan materi proses pengolahan kopi pasca panen. Mulai dari memetik biji kopi yang telah masak, penyortiran biji kopi, pengupasan kopi menggunakan mesin pulper, pengeringan, roasting kopi baik secara tradisional maupun menggunakan mesin roasting hingga penggilingan. Pemateri melibatkan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, dan Setiawan Subekti, ahli kopi asal Banyuwangi.

Panda/Journalist/BD
Editor : Agustinus Purba
Image : banyuwangikab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*