Konsumsi Rumah Tangga Indonesia

Banyak perdebatan belakangan ini mengenai daya beli masyarakat Indonesia yang cenderung melemah, bagaimana sebenarnya data-data untuk hal ini. Data mengenai pertumbuhan konsumsi rumah tangga memang menunjukan perlambatan. Pada awal tahun 2011, konsumsi rumah tangga mengalami pertumbuhan hingga 5,8%. Namun memasuki tahun 2015 konsumsi rumah tangga mengalami perlambatan pertumbuhan hingga kisaran 5% bahkan tiba pada triwulan ketiga tahun 2017 tumbuh menjadi 4,9%. Penyebabnya adalah nilai komoditas dan energi yang tidak lagi booming seperti tahun 2011, 2012.

Apakah pertumbuhan bisnis online dan logistik yang meningkat juga mempengaruhi akan hal ini? Data pertumbuhan konsumsi relatif tetap sekitar 5% di dalam 3 tahun terakhir ini. Sementara data pertumbuhan bisnis online dan logistik meningkat luar biasa dalam tiga tahun terakhir ini. Memang perilaku konsumen di bisnis online tentunya berhubungan dengan komputer dan internet, terutama memang smartphone, yang masih tergolong mahal bagi orang Indonesia, dan kebanyakan digandrungi oleh anak muda. Bisnis online umumnya juga menggunakan layanan perbankan untuk pembayaran, melalui internet banking, kartu kredit, kartu debit dan ATM. Sedangkan masyarakat Indonesia baru 40% yang memiliki akses ke perbankan.Data ini memberikan gambaran bahwa konsumen bisnis online berasal dari masyarakat berpendapatan menengah ke atas dan orang muda. Perkiraan nilai e-commerce di Indonesia baru mencapai sekitar 2%-4%.

Bagaimana sekarang pola konsumsi masyarakat menengah ke bawah? Sumber pendapatan mereka adalah upah riil yang mengalami penurunan dan terjadi penurunan dari Rp 67.305 pada bulan Oktober tahun 2017 menjadi Rp. 64.894 pada bulan Oktober 2017. Terlihat bahwa upah riil kelas bawah memang mengalami penurunan, sehingga daya beli mereka mengalami tekanan.

Masyarakat menengah atas sebagian besar bekerja di sektor modern dan formal, gaji yang mereka dapatkan selalu disesuaikan dengan kenaikan inflasi. Pendapatan lain mereka adalah investasi di sektor keuangan seperti saham dan obligasi yang dalam beberapa tahun terkahir mengalami kenaikan. Sementara masyarakat kelas bawah bekerja di sektor informal yang tidak ada penyesuaian upah karena inflasi. Tingginya pertumbuhan PPN tidak didorong oleh belanja mayarakat bawah yang umumnya belanja di sektor informal yang tidak dikenakan PPN.

Dari analisa ini, maka perlambatan konsumsi rumah tangga bisa dibenarkan, sedangkan pertumbuhan belanja online juga bisa dibenarkan. Masyarakat menengah ke atas cenderung mengalami peningkatan konsumsi, sedangkan masyarakat bawah mengalami perlambatan dalam konsumsi. Pola konsumsi rumah tangga juga mengalami pergeseran untuk di masyarakat menengah ke atas, dari kebutuhan pokok kepada leisure, sedangkan kelompok bawah masih berjuang memenuhi kebutuhan pokok dan belum sanggup untuk belanja seperti masyarakat menengah ke atas.

Pada tahun 2018 diprediksi akan ada peningkatan harga komoditas dan energi dan pertumbuhan ekonomi akan meningkat, kedua faktor ini akan berdampak positif konsumsi rumah tangga, dan membuat konsumsi rumah tangga kembali membaik.

Penulis Fadjar Ari Dewanto adalah Advisor Lepmida (Lembaga Pengembangan Manajemen dan Investasi Daerah)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*