Ilustrasi: Salah satu kekayaan alam yang menjadi destinasi wisata di Kepri (Photo: Kemenpar)

Infrastruktur Wisata Dukungan Rakyat

JW Marriot, chain hotel asal Amerika sukses mengembangkan jaringan hotel dengan Real Estate Investment Trust (REIT) atau di Indonesia dikenal dengan Dana Investasi Real Estat (DIRE). Instrument investasi ini menghimpun dana dari masyarakat yang dikelola oleh sebuah perusahaan investasi dengan underlying asset bisnis properti seperti hotel yang telah berjalan dan menjanjikan penghasilan yang menarik.

Pada masa krisis moneter 1998, konsep yang sama pernah dikembangkan sebuah hotel di Bogor untuk mengatasi krisis permodalan yang dihadapi. Sekitar 70 orang anggota masyarakat mengambil bagian menjadi pemilik hotel, masuk dalam akte perusahaan, dengan keyakinan mendapatkan imbal balik yang menarik. Pembicaraan saya dengan pemilik saham terbesar hotel ini memberikan inspirasi bagaimana mengatasi kebutuhan dana membangun infrastruktur wisata melalui dana masyarakat.

Cerita tentang kesulitan mendapatkan modal sering saya dengar, namun cerita bagaimana mendapatkan modal jarang saya jumpai. Ia meneruskan mimpinya pada saya, “saya masih punya lahan, dan butuh kembali modal untuk membangun hotel”.  Pemilik hotel masih semangat bercerita, bagaimana dia menulis surat kepada Dave Kost, hingga akhirnya datang berkunjung ke kota Bogor. Ia bahkan pernah menulis surat ke White House saat rencana Presiden George W Bush dan istrinya berkunjung ke Istana Bogor, dan meminta hotelnya dipakai untuk tempat resmi seluruh persiapan kunjungan itu, dan berhasil. Ia membuktikan bahwa kota Bogor menarik bagi kunjungan wisata, dan hal ini berhasil dilakukannya.

Analisa singkat saya Bogor memang menjadi kota yang menarik untuk pengembangan bisnis hotel. Suasana kota, sejarahnya, kuliner dan  kedekatan dengan ibukota Jakarta merupakan nilai jual yang akan menarik banyak wisatawan. Untuk urusan MICE (Meetings, Incentives, Conventions, and Events) Jakarta merupakan pasar yang besar untuk Bogor. Bila 1 persen saja penduduk Jakarta menggunakan Bogor sebagai kota kunjungan, maka 60 hotel Bogor dengan jumlah kamar 6.000 lebih, masih belum mampu menampung wisatawan MICE ini. Tentunya ide untuk menambah hotel-hotel baru disana merupakan ketajaman bisnis yang patut untuk diperhitungkan.

“Sisi masyarakat yang ingin menanamkan modal juga banyak pak, melihat keberhasilan saya di bisnis ini”, begitu ujarnya meyakinkan saya bahwa selain sisi peluang bisnis, peluang untuk pemilik modal juga tidak kalah besar. Sebagai ekonom saya langsung mengerti bahwa supply dan demand untuk membangun hotel ini menarik diteliti lebih jauh. Segera terpikir oleh saya, banyaknya juga kesempatan yang ada di daerah-daerah tujuan wisata di Indonesia  bisa dikembangkan dengan metode modal masyarakat seperti ini.

Kebutuhan yang terutama untuk menghimpun modal masyarakat ini tentulah payung hukum yang melindungi para penanam modal, juga pemilik aktiva. Bentuk permodalan seperti DIRE, belum popular di Jakarta, namun bisa dikembangkan, bentuk-bentuk instrument investasi lainnya perlu disalurkan lewat pasar resmi seperti pasar modal, tentulah semuanya ini membutuhkan keterbukaan investasi dan mekanisme hukum yang memberikan kenyamanan bagi masyarakat.

Penulis Fadjar Ari Dewanto adalah Advisor Lepmida (Lembaga Pengembangan Manajemen dan Investasi Daerah)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*