Ilustrasi: Presiden Joko Widodo bersama Presiden Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Xi Jinping, mengadakan pertemuan di West Lake State Guest House, Huangzhou, RRT, Jumat (2 Sep 2016). Photo: Setkab

Pemikiran Xi Jinping Bagi Tiongkok 2050

(Beritadaerah – Kolom) Pada kongres nasional ke 19 CPC – Partai Komunis China – Oktober 2017, secara official mereka menaruh pemikiran maju Xi Jinping tentang sosialis bergaya Tiongkok untuk era baru Tiongkok. Pemikiran Xi Jinping adalah dasar dari ide dan prinsip-prinsipnya. Pemikirannya ini juga mendasari pembangunan ekonomi Tiongkok ke depan yang terdiri dari tiga bagian besar: People Orientation, Qualitative Change, New Industrial Revolution. Mari kita diskusikan satu persatu.

People Orientation

Menurut Xi Jinping pembangunan ekonomi harus memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Tiongkok untuk kehidupan yang lebih baik, yang berarti juga menyediakan pelayanan yang lebih baik untuk masyarakat di seluruh siklus kehidupan mereka dari mulai mereka lahir sampai mereka lanjut usia. Hal ini menciptakan pembangunan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya, akan dilakukan bagi masyarakat Tiongkok. Diperlukan inovasi didalamnya untuk jumlah masyarakat Tiongkok yang jumlahnya sangat besar.

Qualitative Change

Tujuan utama dari pembangunan ekonomi Tiongkok adalah kualitas yang lebih baik  dari pada tujuan kuantitas. Kualitas adalah kata kunci dari pemikiran pembangunan ekonomi Xi jinping. Setelah tiga dekade pembangunan ekonomi Tiongkok yang mengalami pertumbuhan cepat, saat ini ekonomi Tiongkok mulai melambat pertumbuhannya namun dengan pertumbuhan kualitas yang tinggi. Hal ini merupakan kondisi yang wajar bagi sebuah negara dengan ambisi yang positif.

New Industrial Revolution

Faktor ketiga yang menjadi dasar pembangunan ekonomi Xi jinping adalah merangkul revolusi dibidang teknologi sebagai hal yang vital untuk meraih kesuksesan Tiongkok. Kereta api cepat (bullet train) merupakan andalan Tiongkok, ekonomi dunia maya (internet economy), Artificial Intelligence (AI), dan enerji terbarukan (renewable energy) juga menjadi pendorong baru dari ekonomi Tiongkok.  Tiongkok memang tidak mengambil bagian pada revolusi industri yang pertama untuk mesin uap. Dan juga kehilangan kesempatan pada revolusi industri yang kedua pada saat penemuan listrik. Tapi pada revolusi industri ketiga pada saat penemuan internet, big data dan AI, Tiongkok menjadi negara terdepan yang menjadi pesaing Amerika di banyak area, bahkan memimpin di beberapa area seperti mobile payment, e-commerce dan shared economy.

Beberapa pengamat menyatakan bahwa pemikiran Xi Jinping adalah pemikiran yang jauh kedepan hingga 2050. Pemikirannya memberikan nilai tambah pada proses manufaktur yang tradisional, melalui berbagai inovasi yang dilakukan. Xi jinping dalam bidang pertanian misalnya melakukan investasi yang besar pada green agriculture sebuah cara pertanian modern yang memiliki wawasan lingkungan. Xi jinping juga melakukan pengurangan kapasitas perusahaan memproduksi produk perumahan yang berkualitas rendah untuk masalah yang terjadi karena real estates bubbles. Tiongkok juga menjadi yang terdepan dalam inovasi, mereka bergerak dengan internet revolution, bullet train revolution, sehingga memang layak disebut sebagai negara yang berhasil untuk revolusi industri yang baru. Xi jinping melalui pemikirannya, berhasil membawa sebuah kepastian dan percaya diri bagi Tiongkok ditengan kondisi ketidakpastian duni, proteksi dan de globalization.

Penulis Fadjar Ari Dewanto adalah Advisor Lepmida (Lembaga Pengembangan Manajemen dan Investasi Daerah)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*