Tantangan Energi Terbarukan Di Indonesia

(Beritadaerah – Kolom) Pada tahun 2017, Ignasius Johan pernah menyampaikan kepada media bahwa Indonesia akan meningkatkan energi baru dan terbarukan sebesar 23 persen dari total sumber energi pada tahun 2025. Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang telah dibuat selama konferensi COP 21 di Paris pada tahun 2015. Indonesia berjanji untuk mengurangi emisi sebesar 26 persen pada tahun 2020 bila dilakukan dengan upaya dalam negri dan menjadi 41 persen apabila ada dukungan dari dunia Internasional. Dengan komitmen Indonesia yang cukup tinggi ini menjadi kepastian perlunya perluasan energi terbarukan, sementara kondisi saat ini produksi listrik dari energi terbarukan relatif statis, dan memberikan kontribusi yang masih kecil.

Indonesian Electricity production by source (2007-2016)

Sumber : Kementrian ESDM 2016

Dari grafik diatas didapati juga antara tahun 2007 dan 2016 kapasitas hidro dan panas bumi meningkat. Tetapi secara keseluruhan lebih kecil dibandingkan dengan batubara, sementara solar masih tetap menjadi sumber energi andalan.

Share of renewable energy in Indonesia’s primary energy supply mix 2007–2015

Sumber: GSI Report 2018

Grafik di atas menggambarkan bagaimana kondisi saat ini dari energi terbarukan dalam campuran pasokan energi primer, termasuk bagian dari energi terbarukan dalam transportasi dan pembangkit listrik. Grafik  di atas menunjukkan bahwa persentase tertinggi dari energi terbarukan dicapai pada tahun 2014, mencapai 7 persen dari total bauran energi primer. Ekstrapolasi linier dari tren ini akan menghasilkan maksimum 12 persen pangsa energi terbarukan pada 2025 — jauh di bawah target 23 persen.

Beberapa hal yang menjadi perlu ditingkatkan untuk mencapai target 23 persen adalah; pertama yang paling penting dari peningkatan energi terbarukan adalah harga pembelian daya yang perlu ditingkatkan untuk memungkinkan pengembang mendapatkan timbal balik investasi mereka dan menghasilkan keuntungan yang wajar.

Kedua, perubahan-perubahan yang sering terjadi terhadap kebijakan, penundaan pengaturan dan implementasi kebijakan pemerintah yang tidak merata oleh PLN perlu dibenahi. Karena sangat dominan dalam menggerus kepercayaan investor dan meningkatkan risiko pengembangan proyek.

Ketiga, pengembang juga khawatir bahwa sistem harga baru tidak memberikan pengakuan apa pun tentang manfaat lingkungan dari energi terbarukan, dan kenyataannya mendukung sumber-sumber fosil. Karena harga energi terbarukan saat ini tidak disubsidi dan bersaing melawan pembentukan batubara bersubsidi.

Peran PLN sebagai pemasok bahan bakar untuk generator diesel perlu didorong menjadi pemasok bahan bakar terbarukan. PLN memiliki dan mengoperasikan sebagian besar kapasitas pembangkit bahan bakar fosil. Karena itu diperlukan perubahan perannya untuk juga mengoperasikan pembangit listrik energi terbarukan, bahkan semakin hari semakin besar.

Selain tantangan yang dihadapi, sebagai catatan positif, saat ini penurunan harga global yang berkelanjutan di sektor energi terbarukan berangsur-angsur mengikis kesenjangan biaya antara energi terbarukan dan bahan bakar fosil. Hampir semua pihak akan mendukung peningkatan energi terbarukan dengan kondisi biaya yang murah.

Penulis Fadjar Ari Dewanto adalah Advisor Lepmida (Lembaga Pengembangan Manajemen dan Investasi Daerah)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*