Pameran Revolusi Industri 4.0 (Photo: Setkab)

Tantangan Revolusi Industri 4.0 & Ekonomi Digital

Di Era disrupsi teknologi, gabungan antara domain fisik, digital, dan biologi, Indonesia perlu meningkatkan kualitas keterampilan tenaga kerja dengan teknologi digital. Dunia sekarang bergerak pada era industri 4.0 yang mencakup: Internet of Things, Artificial Intelligence, New Materials, Big Data, Robotics, Augmented Reality, Cloud Computing, Additive Manufacturing 3D Printing, Nanotech & Biotech, Genetic Editing.

Potensi Ekonomi Indonesia ke depan memberikan optimisme untuk bisa meraih kemajuan menuju ke industri 4.0. Mc Kinsey memprediksi bahwa Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar ke 7 tahun 2030 dan Pricewaterhouse Coopers (PwC) memprediksi menjadi negara dengan kekuatan ekonomi ke 4 terbesar tahun 2050.

Salah satu faktor yang menjadi dasar prediksi tersebut adalah faktor demografi Indonesia yang saat ini berjumlah 262 juta penduduk dan dikenal dengan istilah bonus demografi yaitu berlimpahnya tenaga kerja di usia produktif. Tenaga kerja merupakan kebutuhan kunci agar Indonesia menjadi pemimpin dalam era industri 4.0. Pemerintah sendiri sudah menetapkan bagaimana mereka fokus pada pengembangan SDM melalui peningkatkan akses, relevansi, dan mutu Pendidikan Tinggi untuk menghasilkan SDM yang berkualitas.

Peringkat Indonesia dalam daya saing, iptek dan inovasi masih di posisi bawah dibandingkan dengan negara-negara lain. Daya saing Indonesia berada pada peringkat 36 dari 137 negara versi WEF 2017, daya saing Inovasi Indonesia berada pada peringkat 87 dari 127 negara versi WIPO 2017 sedangkan Singapura peringkat ke 7, Malaysia ke 37, Thailand ke 51. Dalam peringkat knowledge & technology outputs versi WIPO 2017 Indonesia berada pada peringkat 70 dari 127 sedangkan Singapura berada pada peringkat ke 11, Vietnam ke 28, Malaysia ke 36, dan Thailand ke 40.

Dari grafik GII 2017,WIPO terlihat bahwa Indonesia banyak tertinggal dan belum melebihi negara-negara tetangga di Asia Tenggara dalam hal Inovasi.

Jadi Indonesia memiliki harapan besar untuk potensi ekonomi di masa depan untuk menjadi negara maju, namun kondisi saat ini peringkat Indonesia dalam  daya saing, iptek dan inovasi masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara di dunia. Kelebihan Indonesia dalam bonus demografi merupakan kekuatan untuk masuk era Industri 4.0 namun memerlukan peningkatan kemampuan ke standard yang diperlukan agar bisa memenuhi kebutuhan bisnis dan industri.

Pemerintah sudah menyusun kerangka pendidikan nasional untuk menjawab tantangan ini, namun diperlukan disetiap entity pendidikan memiliki semangat yang sama untuk memecahkan tantangan ini sehingga kompetensi inti sesuai dengan kebutuhan industri 4.0. Namun yang sangat diperlukan adalah semangat secara nasional untuk menembus tantangan-tantangan ini sehingga dapat mencapai prediksi bahwa Indonesia akan mencapai negara maju ke 7 pada tahun 2030 dan negara maju ke 4 pada tahun 2050. Majulah Indonesiaku!

 

 

Penulis Fadjar Ari Dewanto adalah Advisor Lepmida (Lembaga Pengembangan Manajemen dan Investasi Daerah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*