Keindonesiaan Dan Keislaman HMI Sejalan Dengan Jokowi

(Beritadaerah-kolom) Pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Lafran Pane yang ditetapkan menjadi pahlawan nasional, mendirikan HMI dengan dua asas penting yaitu keindonesiaan dan keislaman. Asas ini mewakili pemikiran para alumni HMI yang memang tidak pernah berhenti untuk hidup sebagai pemeluk Islam yang taat dengan keyakinan bahwa Islam adalah agama rahmatan lilalamin pembawa sejahtera bagi manusia. Namun HMI sekaligus juga hidup sebagai insan yang memiliki keindonesiaan yang kuat, cinta akan tanah air dan memahami keragaman yang ada dan hidup dalam kerukunan dalam berbangsa.

Pandangan ini disampaikan oleh Akbar Tanjung pada acara Harlah HMI ke 72 di rumah kediamannya di Jakarta. Saya melihat pandangan ini sejalan dengan dengan apa yang sedang dijalankan oleh pemerintahan saat ini. Keindonesiaan HMI juga diterjemahkan dalam dukungan alumninya kepada pemerintahan dari generasi ke generasi. Organisasi dengan sepuluh ribu anggota tersebar pada dua ratus cabang lebih di empat ratus perguruan tinggi di seluruh Indonesia ini mendukung pemerintah dengan menghadirkan ratusan professor dan ribuan doktor sebagai tenaga intelektual bagi Indonesia.

 

 

Jokowi dipandang oleh HMI sebagai presiden dengan komitment yang kuat pada keindonesiaan dan keislaman. Keindonesiaan Jokowi dilakukan dalam berbagai bentuk bukti nyata yang terlihat (tangible) maupun yang sering tidak terlihat (intangible). Keragaman adalah sunnatullah , atau kehendah Tuhan, demikian selalu disampaikan Jokowi di berbagai forum, dan menjadi harta yang sangat berharga adalah kerukunan, persaudaraan di antara keragaman yang ada. Jokowi menyatakan Indonesia perlu menjadi pioner kembali di antara negara-negara di dunia. Tahun 1978 waktu tol Jagorawi dibuat sepanjang 50 kilometer berbagai negara datang melihat keberhasilan ini sebab mereka hendak mencontohnya. Tiongkok salah satunya, setelah melihat Jagorawi, empat puluh tahun kemudian Tiongkok berhasil membangun 280 ribu kilometer jalan tol, dan Indonesia tertinggal jauh. Setelah 40 tahun Indonesia memiliki jalan tol hanya mencapai 780 km, namun empat tahun kepemimpinan Jokowi 782 km jalan tol dibangun, bahkan akhir 2019 akan diselesaikan hingga 1.854 km jalan tol. Inilah salah satu bentuk nyata keindonesiaan Jokowi, sangat patriotik dan optimis untuk membangun Indonesia menjadi negara maju.Menurut presiden dalam sambutannya di harlah ke 72 HMI, pandangannya sama dengan HMI juga dalam keislaman. Jokowi mengharapkan HMI terus menghasilkan intelektual Islam yang akan mendukung Indonesia masuk sebagai negara maju, Intelektual islam rahmatan lilalamin.

Melihat persamaan HMI dengan kepemimpinan nasional ini, Akbar Tanjung mendoakan agar Jokowi bisa meneruskan pembangunan Indonesia lima tahun mendatang. Dalam pernyataannya keindonesiannya Jokowi terlihat dalam langkah pembangunan yang intangible pada lima tahun mendatang. Bagi Jokowi, prioritas pembangunan lima tahun mendatang adalah pembangunan sumber daya manusia yang menjadi modal Indonesia untuk menjadi negara maju. Indonesia memiliki bonus demografi yang perlu disertai dengan ketrampilan dan kemampuan yang cukup untuk memenangkan persaingan dan melepaskan Indonesia dari middle income trap. Semua yang hadir berseru mengaminkan doa Akbar Tanjung ini untuk Jokowi kembali memimpin Indonesia lima tahun yang akan datang.

About Fadjar Dewanto

Partner in Business Advisory Vibiz Consulting, Advisor LEPMIDA (Lembaga Pengembangan Manajemen dan Investasi Daerah) who is active as editor and a columnist on Vibiz Media Network.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.