Hanif Dhakiri: Lapangan Kerja untuk Rakyat Indonesia, Bukan yang Lain

(Berita Daerah-Pilpres 2019) Menteri Tenaga Kerja RI 2014-2019: Hanif Dhakiri menghadiri acara Ngopi 1000 Desa Jawa Barat bersama para caleg dan para relawan Jokowi-Maruf Amin. Dalam kesempatan ini Hanif Dhakiri membahas mengenai isu-isu ketenagakerjaan.

Mengenai lapangan kerja di Indonesia yang diisukan diperuntukkan bagi tenaga kerja asing maka Hanif mengatakan dengan tegas dan jelas bahwa lapangan kerja itu untuk rakyat Indonesia bukan untuk yang lain. Ia mengingatkan agar hati-hati jangan termakan hoax bahwa lapangan kerja diambil oleh tenaga asing dari China

Ia kembali menceritakan bahwa Morowali, dahulu adalah seperti Tapos jaman dulu kala, hutan belantara, tidak ada apa-apa disana. Tahun 2007 pengusaha yang survei disana hanya melihat 3 sepeda motor. Sekarang mereka melihat ribuan motor. Lalu masuklah investor dari China dan kawasan industri Morowali terbentuk, dan sekarang ini sudah tercipta 32.000-an lapangan kerja. Dari 32.000, maka 29.000 adalah tenaga kerja lokal, sisanya sekitar 3000-an diisi tenaga kerja China. Jadi lebih banyak tenaga kerja lokal.

Dahulu di Morowali tidak ada kawasan industri, tidak ada lapangan kerja. Dulu jualan ikan Rp. 5000 susah lakunya. Sekarang dijual Rp. 25.000 laku. Kebutuhan ayam saja 5 ton dari Morowali. Jadi menurut Hanif, manfaat ekonomi Morowali besar sekali.

Hanif mengatakan kalau ada yang bilang orang asing mengambil lapangan kerja di Indonesia maka ia mengibaratkan sebuah meja makan yang kosong, lalu datanglah investor dari China membawa 32.000 roti. Dari 32.000 yang dibawa maka 29.000 diberikan kepada orang Indonesia, 3000nya dipakai untuk mereka sendiri. Jadi tidak benar kalau lapangan kerja Indonesia diambil asing

Selanjutnya tentang isu tenaga kerja asing di Indonesia ini kebanjiran. Menurut Hanif, tenaga asing di Indonesia ini sangat aman terkendali. Mengapa? Pertama, dari sisi prosedur sangat ketat, yaitu:

  1. Harus ada ijin kerja dan ijin tinggal
  2. Harus bayar pajak, 1 orang USD 100 per orang, per bulan. Pajak sudah Rp. 1,5 juta per orang per bulan. Jadi bayangkan, kalau ada pengusaha pakai tukang batu dari luarnegri, bayar pajaknya saja sudah Rp. 1,5 juta. Pasti akan bangkrut!
  3. Ada syarat pendidikan, syarat kompetensi,
  4. Hanya bisa bekerja di lokasi tertentu, jabatan tertentu, untuk waktu tertentu.
  5. Dan lain sebagainya

Kedua, jumlah tenaga asing di Indonesia masih kecil, jumlahnya hanya di kisaran 95.000-an. Kalau dibandingkan jumlah penduduk yang 263 juta hanya sekitar 0,08%. Kalau dibandingkan tenaga asing di Singapore jumlahnya hampir 1/5 dari jumlah penduduknya. Tenaga asing di Uni Emirat Arab dan di Qatar justru lebih besar dari jumlah penduduknya. Sedangkan di Indonesia dibawah 100.000, ditengah penduduk yang 263 juta.

Kalau dibandingkan jumlah TKI di luar negeri jauh lebih kecil lagi. TKI yang bekerja di luarnegri sekitar 9 juta orang. Di Indonesia kalau melihat tenaga asing, orang sudah heboh. Padahal di negara lain, misalnya di Hongkong, Hanif mengatakan ia membuat acara bersama 30.000 orang TKI, disana bisa ngaji, bisa dangdutan, bisa bicara bahasa Indonesia, pada saat sholat Ied di negara yang bukan Islam tidak ada masalah.

Hanifpun menutup pidatonya dengan berkata, “Nikmat mana lagi yang hendak engkau dustakan? Pointnya kita ini sekarang moving forward, maju ke depan harus pelihara optimisme dan harapan kita agar Indonesia menjadi jadi lebih baik lagi! Kita bersyukur karena kita ini hidup sebagai orang Indonesia diberkahi Tuhan. “

 

Vera Herlina/Journalist/BD

Editor: Emy Trimahanani

 

 

 

About Emy Trimahanani

Head of LEPMIDA (Regional Investment and Management Development Institute), Partner in Management and Technology Division of Vibiz Consulting and Editor of Vibiz Media Network.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.