Hanif Dhakiri: Melawan Hoax Ketenagakerjaan dengan Fakta

(Berita Daerah – Pilpres 2019) Diakhir acara Ngopi 1000 Desa Jawa Barat, Menteri Tenaga Kerja RI 2014-2019: Hanif Dhakiri, menyampaikan pidato tentang fakta ketenagakerjaan di depan para caleg dan para relawan Jokowi-Maruf Amin. Hanif Dhakiri mengajak dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 17 April yang akan datang untuk memilih dengan akal sehat.

Dalam kesempatan ini Hanif memakainya untuk menjelaskan semua hoax isu ketenagakerjaan dengan fakta yang ada, terlebih patut disyukuri bahwa 4 tahun di bawah Jokowi segala sesuatunya semakin baik. Hanif mengatakan, “Kita tahu, angka kemiskinan di Indonesia dari dulu selalu angkanya belasan dan baru kali angkanya dibawah 10% yaitu 9,6%. Ini adalah angka kemiskinan paling rendah sepanjang sejarah. Angka pengangguran tadinya naik 6,1% kini 5,3 %. Ini juga angka pengangguran paling rendah dalam 20 tahun terakhir sejak Indonesia memasuki reformasi. “

Bagaimana dengan penciptaan lapangan kerja? Janji Pak Jokowi adalah 10 juta lapangan kerja dalam 5 tahun. Tetapi dalam waktu 4 tahun sudah mencapai 10.540.000. Jadi sebenarnya sudah melampaui target. “Menaker sudah boleh liburan dong” canda Hanif dan disambut dengan tawa hadirin.

Bagaimana kalau ada yang bertanya: kalau sudah melampaui target mengapa masih ada yang mengganggur? Maka Hanif menjelaskan kepada semua yang hadir bahwa tenaga kerja Indonesia berjumlah 131 juta , 58% lulusan SD SMP. Artinya, kalau ada 10 tenaga kerja, 6 lulusan SD SMP, tersisa 4 lulusan SMA, SMK, D1, D2 , D3, D4 termasuk sarjana. Dari 4 orang ini missmatch-nya 63%. Jaka sembung bawa golok artinya tidak nyambung sekolahnya apa pekerjaannya apa. Hal ini menunjukkan bahwa dari 10, 6 orang hanya lulusan SD dan SMP, 3 orang missmatch. Berarti hanya 1 orang yang berpendidikan yang punya skill yang dibutuhkan pasar kerja.

Hanif membawa hadirin pada kesimpulan bahwa problem utama bukan pada lapangan pekerjaan tapi pada masalah skill, tidak nyambung antara skill dengan lapangan pekerjaan yang ada. Hanifpun kembali memberikan contoh di Morowali, yang diributkan tentang masalah tenaga kerja asing. Morowali mencari 800 supir truk dengan syarat memiliki SIM B1 tetapi dapatnya hanya 9 orang. Lalu diturunkan syaratnya, tidak pakai syarat SIM B1, tidak nambah juga. Akhirnya diusulkan tidak pakai syarat dan langsung dicoba namun hasilnya nabrak-nabrak. Demikian pula di Jawa Tengah, Hanif mengatakan ada pabrik garmen yang benar-benar meminta tolong dicarikan 25.000 tenaga kerja pabrik garmen. Tetapi sampai hari ini masih belum bisa dipenuhi. Problemnya adalah tenaga kerja dengan skill yang kurang.

Itulah sebabnya mengapa Pak Jokowi merencanakan meluncurkan kartu pra-kerja untuk menjembatani mereka yang tidak punya skill agar bisa mendapatkan pelatihan sesuai dengan kebutuhan di lapangan kerja. Dengan demikian lulusan SD, SMP dan yang missmatch sehingga bisa memiliki ketrampilan yang baik untuk bisa masuk ke lapangan kerja.

 

Vera Herlina/Journalist/BD

Editor: Emy Trimahanani

 

About Emy Trimahanani

Head of LEPMIDA (Regional Investment and Management Development Institute), Partner in Management and Technology Division of Vibiz Consulting and Editor of Vibiz Media Network.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.