Ilustrasi: SDM Industri Berbasis Kompetensi

Manusia Indonesia Menyongsong Indonesia Maju

(Beritadaerah – Kolom) Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin sudah ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih pemilu 2019, mereka akan segera memimpin Indonesia setelah dilantik yang rencananya pada bulan Oktober 2019 ini. Jokowi Amin akan meneruskan dua fokus pemerintah pada saat ini yaitu pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan pembangunan infrastruktur. Keduanya merupakan kebutuhan Indonesia untuk bisa menjadi bangsa yang maju. Pemerintah bersama dengan komponen bangsa perlu terus bersatu, bekerja keras untuk mengejar kemajuan yang hendak dicapai. Pembangunan SDM memang lebih membutuhkan kerja keras dibandingkan dari pembangunan infrastruktur. Namun pembangunan SDM memberikan efek multiplier yang lebih besar dibandingkan pembangunan infrastruktur, belum ada pembuktian mengenai hal ini, hanya nalar logis menyatakan satu orang manusia yang produktif dapat menghasilkan pembangunan desa, kota, sekolah, kampus, dan lainnya sehingga kehidupan yang lebih baik akan bisa dinikmati.

Sekalipun demikian infrastruktur menunjang pembentukan manusia Indonesia yang produktif sebab membuka akses bagi peningkatan kualitas hidup manusia. Presiden Jokowi menyampaikan tenaga kerja Indonesia saat ini 51 persen adalah lulusan sekolah dasar. Inilah tantangan yang jelas terlihat, namun akan bisa diatasi saat budaya produktif, kedisplinan dan kerja keras mengakar di seluruh bangsa. Sudah banyak cerita mereka yang berhasil dengan latar belakang pendidikan yang tidak tinggi namun dapat mengejar ketertinggalannya dengan budaya hidup yang berubah. Dimanapun seorang manusia berada akan membawa perubahan bila mereka telah menjadi produktif. Ketika saya memikirkan tentang pembangunan manusia menjadi menarik karena, sekali lagi hasilnya yang sangat luar biasa namun juga bisa mengandung risiko yang besar bahkan menjadi bencana bila terjadi kesalahan pengelolaan.Dalam artikel ini fokus yang saya ingin sampaikan bukanlah pembangunan seluruh manusia Indonesia, namun kepada mereka yang berada pada usia kerja. Karena inilah pendorong Indonesia maju ke depan.

 

Mendidik Anak Melanjutkan Profesi Orang Tua

Saya hendak mengambil contoh-contoh sederhana yang terjadi di masyarakat sebagai sebuah hipotesa yang membutuhkan data dan penelitian lebih lanjut untuk bisa diangkat sebagai tantangan bagi Indonesia. Beberapa waktu lalu saya bersama keluarga menghabiskan liburan di Labuan Bajo yang sekarang terus berbenah melalui pembangunan Marina, dan infrastruktur pariwisata yang membuat nyaman saat berlabuh disana. Selepas berlabuh saya berdialog banyak dengan pemilik kapal untuk menyeberang ke pulau Kanawa salah satu destinasi indah di Labuan Bajo. Ia menyebutkan namanya Biduan, orang suku Bajo dan punya tiga anak, mulailah saya bertanya bagaimana dengan rencana atas tiga anaknya. Biduan menjawab, “anak saya, saya ajarkan jadi juru mudi kapal perahu, biar bisa cari makan kalau sudah besar.” Ia mengatakan sambil menunjuk pada anaknya yang bungsu,  kelas 3 SMP, sambil sesekali dia memberikan kemudi pada anaknya di lautan yang tenang teduh. Mungkin ini adalah salah satu contoh bagaimana pola peningkatan kualitas tenaga kerja Indonesia. Biduan tidak berhenti disana, ia menyekolahkan anaknya paling tidak bisa sama dengan dirinya yang menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di kampungnya di Bima dan berharap bahwa anaknya bisa lebih tinggi dari dirinya.

Kapal Pelayaran Rakyat, Dukung Perkembangan Pariwisata di Kayong Utara (Photo: Kominfo)

 

Kebutuhan Mentorship

Kanawa di Labuan Bajo adalah tempat yang istimewa, dan sekarang semua biro perjalanan, menjualnya sebagai salah satu rangkaian paket perjalanan wisata, saat wisatawan bertamasya ke Labuan Bajo. Saya bertemu dengan manajer pengelola Kanawa – Eduardus, yang asli kelahiran Flores. Ia seorang yang gesit dan dapat mengerjakan keseluruhan pengelolaan pulau dengan trampil. Sekalipun ia manajer namun bangun pagi-pagi benar dan membersihkan pantai, ia memiliki integritas dalam pekerjaannya dan bersikap melayani pelanggan dengan baik. Menggagumkan memang untuk seorang putra Flores yang tidak mengenyam pendidikan hingga tinggi namun bisa produktif. Ia masih bisa ditingkatkan produktifitas bila ada seorang mentor ada disana. Sesaat saya ada disana berdiskusi untuk membuat promosi untuk mengundang banyak tamu adalah hal yang baru bagi dia. Hingga malam hari kami membuat papan tulis menuliskan promosi untuk menjual berbagai keindahan Kanawa, menu restoran dibuat lebih sederhana dan menarik mereka yang datang. Mungkin ada banyak anak bangsa yang seperti Eduardus ini, menurut saya perlu sekali menuju percepatan peningkatan SDM ini peran mentor yang mendorong kemajuan.

Energi ini ada di bangsa Indonesia, mulai dari perusahaan-perusahaan milik negara, swasta, kampus-kampus yang mendidik mahasiswa atau sarjana-sarjana baru bisa mendampingi mereka yang membutuhkan pendampingan seperti ini. Tentu saja untuk mereka tidak mempunyai dana membayar para mentor, mentor bisa mengusahakannya secara swadaya atau dalam bentuk CSR. Kebutuhan akan mentor ini merupakan percepatan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

 

Partnership Dengan Lembaga Internasional

Saya sempat berkenalan juga dengan seorang warga negara Indonesia yang lama tinggal di Eropa dan sekarang datang ke Indonesia mewakili negara Swiss, melalui program yang bernama The Asia Entrepreneurship Training Program (AETP) program Kementerian Pendidikan Ristek dan Inovasi Swiss (SERI) melalui program Leading House Asia. Country partner adalah beberapa negara Asean (Indonesia dan Vietnam) juga Korea. Sebagai Implementing Agency adalah ETH Zurich dan ZHAW Fachoschule. Program yang sudah adalah dengan Indonesia sejak Maret 2018. Mitra mereka di Indonesia antara lain adalah Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI) dan Ditjen Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin.

Bentuk kerjasama seperti ini juga dalam rangka percepatan bagi anak bangsa yang sedang menuju pada kemajuan, segmen yang ditargetkan adalah anak-anak muda yang sedang membangun bisnis sendiri untuk menembus pasar Eropa melalui pelatihan, kerjasama dengan perusahaan Swiss yang tagline Swiss-Indonesian start-up accelerator with international exchange. Bentuk kerjasama seperti ini membuat kemajuan bagi pengusaha-pengusaha Indonesia yang merupakan bagian dari pembangunan sumber daya manusia.

 

Persoalan-persoalan Daerah

Sempat juga saya bertemu dengan beberapa wakil pemerintah daerah di pameran Asosiasi Pemerintah kabupaten seluruh Indonesia (APKASI) Otonomi Expo (AOE) 2019.  Mereka menjawab pertanyaan apakah yang menjadi persoalan pembangunan sumber daya manusia. Tanibar misalnya menyebutkan persoalan mereka bagaimana mengisi kebutuhan tenaga kerja blok Masela yang oleh Jokowi diserahkan ke provinsi Maluku untuk melatih tenaga kerja asal Maluku bersama dengan kementrian ESDM. Kesempatan ini terbuka bagi Indonesia khususnya masyarakat di provinsi Maluku untuk segera mempercepat pelatihan anak-anak muda mengambil kesempatan kemajuan bagi daerahnya. Tentu bukanlah hal yang mudah untuk mengatasi hal ini, mengingat lokasi yang jauh dan memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk bisa menjangkaunya.

(Foto: Handi/BD)

Beritadaerah.co.id dalam pameran APKASI juga mewancari wakil pemerintah kabupaten Jambi di Sumatera yang mengusahakan peningkatan kualitas masyarakat usia kerja melalui  program beasiswa ke Universitas Indonesia dan kampus-kampus negri lainnya, juga melalui kerjasama antara usaha kecil menengah dan perusahaan-perusahaan besar di Jambi. Kabupaten Bone Sulawesi melakukannya dengan kaderisasi dari tiap-tiap dinas agar memiliki tenaga-tenaga profesional sesuai kebutuhan. memberikan beasiswa untuk sekolah, serta mempermudah kewirausahaan agar anak-anak muda mau belajar berbisnis dan tidak pergi meninggalkan Bone. Kalau Bali terus mengembang sekolah pariwisata kerjasama dengan pemda, dan meminta hotel, perusahaan-perusahaan lain di Bali menerima praktek kerja lapangan yang dilakukan. Kabupaten Jayapura Papua mengharapkan peran APKASI dalam membantu menyediakan training dan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Berbagai contoh tantangan juga pendapat masyarakat yang saya jumpai di lapangan mungkin masih sebagian kecil persoalan yang dihadapi dalam mempercepat pembangunan manusia di Indonesia. Mengingat penduduk Indonesia berjumlah hampir 270 juta jiwa dan terdiri dari 714 suku yang akan semakin khusus tantangannya bila dilakukan penelitian hingga ke komponen masyarakat yang terkecil. Indonesia juga negara sudah terbentuk dalam perbedaan, penting sekali semangat yang ada dalam benak Jokowi Ma’ruf Amin ini sampai kepada seluruh lapisan masyarakat supaya Indonesia maju berdasarkan Pancasila.

 

 

 

 

 

About Fadjar Dewanto

Partner in Business Advisory Vibiz Consulting, Advisor LEPMIDA (Lembaga Pengembangan Manajemen dan Investasi Daerah) who is active as editor and a columnist on Vibiz Media Network.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.